Layanan Bimbingan dan Konseling SMP N 15 Bandung

Layanan Bimbingan dan Konseling SMP N 15 Bandung
SMP N 15 Bandung

Kamis, 05 Mei 2011

MENGINTIP BACAAN REMAJA*

Membaca adalah sebuah kebutuhan manusia bahkan lebih mendasar daripada kebutuhan makan dan minum karena dengan membaca manusia akan mengetahui akan ilmu, sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ahmad “ Kebutuhan manusia terhadap ilmu pengetahuan itu lebih besar daripada mkan dan minum. Karena orang membutuhkan makan dan minum hanya satu kali sampai tiga kali, tetapi kebutuhan terhadap ilmu sebanyak bilangan tarikan napasnya.”1 


 
Ahmad bin Ismail berkata, “Buku adalah teman bicara yang tidak mendahuluimu ketika engkau sibuk, tidak memanggilmu ketika engkau sedang bekerja, dan tidak memaksamu agar engkau berdandan untuknya. Buku adalah teman yang tidak menyanjungmu, sahabat yang tidak membujukmu, kawan yang tidak membosankanmu, dan penasihat yang tidak mencari kesalahanmu.”




Betapa pentingnya membaca, hal ini tersirat pada wahyu yang pertama kali turun berbunyi:
“Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan,”2.
Sungguh ironis negara yang merupakan mayoritas beragama islam terbesar di dunia yang di dalam Islam diajarkan untuk membaca tetapi indek membacanya sangat rendah sekali. Memprihatinkan memang, kalau pun kabar terakhir masyarakat gemar membaca, termasuk remajanya. Ternyata kabar ini pun harus kembali membuat pemerintah dan masyarakat psing sebab masyarakat sekarang memang hobi membaca media, termasuk membaca media yang berbau seks.
Dengan dibukanya kebebasan pers selama era reformasi, bagai jamur di musim hujan, berbagai tabloid dan koran pun tidak mau ketinggalan termasuk didalamnya majalah yang berlomba untuk menggaet pembaca demi keuntungan bisnis. Tentu saja, segala cara dilakukan termasuk didalamnya media yang menyajikan menu berbau seks dan yang paling parahnya lagi media seperti ini yang justru diminati oleh remaja kita.
Remaja yang merupakan salah satu fase  dari perkembangan manusia yang dikatakan oleh para ahli psikologi merupakan fase gonjangan kedua artinya dimana fase ini merupakan fase yang sangat menentukan, apabila masa remajanya baik maka masa depannya diperkirakan akan baik dan sebaliknya. Oleh karenanya masa remaja sering disebut dengan masa labil. Segala pengetahuan ingin diketahuinya, dicoba dan dirasakan.
Di lihat dari segi psikologis sebenarnya memang telah menjadi fitra akan keingintahuan soal seks bagi remaja dan justru perlu diberikan, namun yang menjadi permasalahan adalah bagaimana agar keingintahuan itu diarahkan ke arah yang benar yaitu dengan cara menutup kran-kran yang justru menodai kefitrahan remaja seperti media-media berbau seks.
Banyaknya majalah yang berbau seks ini seperti Liberty, Map, Pop, Popular, GG, X-files dan sejenisnya ternyata lebih banyak berdampak negatif misalkan menjadikan remaja menjadi masyarakat pemimpi (The Dreamer Society) dan secara tidak langsung bacaan dan gambar ternyata berpengaruh besar terhadap sikap dan gaya hidup, apabila bacaan dan gambar yang dikonsumsi oleh remaja adalah yang berbau seks maka bagaimanakah sikap dan gaya hidupnya?
Berbagai motif menyatu dari mulai motif bisnis sampai motif ingin menghancurkan generasi remaja karena remaja merupakan tiang suatu negara. Mereka yang ingin menghancurkan remaja sesungghnya ingin menghancurkan islam karena mereka (musuh Al-Islam) menyadari bahkan mereka tidak akan menang mealawan islam jika memakai fisik, karenanya cara mereka adalah perang pemikiran atau Al-Ghazw Al-Fikr.3
Terlepas dari pro dan kontranya masalah media yang berbau seks ini tak bisa lepas dari peran serta pemerintah dan pemahaman masyarakat indonesia tentang masalah ini baik dilihat dari segi agama maupun dilihat dari segi budaya. Namun, melihat fenomena yang telah terjadi saat ini dan berdasarkan penelitian para ahli terkait dapat ditarik kesimpulan bahwa media yang menyuguhkan menu berbau seks ternyata lebih banyak segi negatifnya daripada segi positifnya. Oleh karenanya bagimana mencari solusi atas permasalahan ini adalah tugas bersama.
Penulis mencoba memberikan alternatif bagi permasalahan ini diantaranya adalah :
1)                            Mengoptimalkan peran orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak. Bimbingan orang tua sangat dibutuhkan untuk remaja karena saat itu remaja memerlukan pedoman dan pegangan yang betul dan benar pada siapa lagi jika bukan pada orang tuanya ?
2)                            Adanya pengawasan dari pemerintah dan anggota legislatif.
3)                            Adanya media alternatif yang lebih mendidik dan islami.
4)                             Memberikan pemahaman keagamaan yang disertai pengontrolan dari berbagai pihak.
Sesungguhnya pendengaran dan penglihatan kita akan dimintai pertanggungjawaban kepada Sang Pencipta. Islam melarang kita menjauhi perbuatan yang bukan haknya terutama penglihatan tentunya ada ibroh dibalik itu semua yang kadang semua itu pada saat ini seperti telah dianggap wajar padahal pada hakikatnya adalah tidak wajar dan bahkan buruk.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.4
Semoga Allah selalu membimbing kita agar lolos dari segala halang rintang di kehidupan ini karena sesungguhnya hanya kepada ALLah kita menyembah dan hanya kepada-Nya kita meminta.

* ditulis oleh Pathah Pajar M., S.Pd., C.Ht



DAFTAR PUSTAKA


Al-Qur’an Karim.

Hanafi, Yusuf & Fadhlan, Abu. Budaya Pop Remaja (2001). Bogor.
Studia Publication.
Izzududin, Solihin Abu. Tarbiyah Dzatiyah (2003).Surakarta. Bina Insan
Press.
Prayitno, Irwan Dr. Al-Ghazw Al-Fikri (2002). Jakarta. Pustaka
Tarbiatuna.


1 Efisiensi Waktu, Jasim Badr Al Muthawwi, : 28
2 Al-Qur’an Surat Al-Alaaq ayat 1
3 Dr. Irwan Prayitno dalam Al-Ghazw Al-Fikri
4 Al-Qur’an Surat Al-Israa ayat 36

Tidak ada komentar:

Posting Komentar